Aku adalah Negara, Negara adalah Aku.

Adalah sebuah kata – kata yang seringkali dilontarkan oleh para petinggi – petinggi Negara yang sangat nasionalis. Mereka seringkali menganggap bahwa ketika mereka telah menduduki posisi tertinggi dalam pemerintahan, maka mereka merasa bahwa ia adalah perwujudan manusia dari Negara yang ia pimpin.

“Aku adalah Negara, Negara adalah Aku, maka apapun yang aku inginkan adalah keinginan Negara, dan apa yang Negara inginkan adalah keinginanku.”

Sikap seperti ini pada awalnya akan sangat idealis dan professional. Petinggi itu akan benar – benar memikirkan apa yang terbaik untuk negaranya, untuk rakyatnya. Tetapi setelah sekian lama, petinggi itu akan mulai memasukkan nilai – nilai personalnya dalam pertimbangannya ketimbang bersifat professional. Hal ini tidak selalu sesuai dengan apa yang sebenarnya ada secara riil dan dianggap ada oleh rakyatnya.

Kemudian, mulailah muncul kebijakan – kebijakan, penyataan – pernyataan yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat atau bahkan justru tidak masuk akal. Semua karena sang petinggi menganggap bahwa apapun yang ia anggap benar – benar ada di hadapan Negara, padahal bisa saja itu hanya asumsinya yang tak berdasar tanpa pengetahuan yang matang.

Hal – hal itu juga bisa berujung pada pengambilan keputusan yang sangat fatal. Katakanlah ketika sang petinggi sangat takut akan keberadaan suatu entitas yang tidak jelas keberadaannya, Ia mengomandokan angkatan bersenjatanya untuk membasmi entitas tersebut. Dan ketika Ia salah, Iapun akan berkilah bahwa itu adalah langkah antisipasi untuk menghadapi entitas yang tidak jelas tersebut. Padahal entah sudah berapa banyak anggaran yang ia buang untuk hal yang sia – sia.

Keberadaan petinggi Negara seperti ini sangat berbahaya bagi rakyat, karena ini akan memisahkan entitas Negara dengan rakyat. Negara yang semua didirikan untuk kepentingan rakyat, akan berbalik di mana rakyat mengabdi untuk Negara yang merupakan entitas yang terpisah dari rakyat itu sendiri dan tidak bertindak atas kepentingan rakyat, tetapi pada kepentingan ego petinggi Negara tersebut.

Terkadang hal – hal seperti ini sangat sulit terhindarkan, bahkan di Negara demokrasi sekalipun, karena sekalinya seseorang berkuasa, maka lama kelamaan ia akan mabuk kekuasaan. Tetapi bahasan tentang kekuasaan dan Negara adalah bahasan untuk tulisan yang lain lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s